Isolation of alkane-degrading bacteria from deep-sea Mediterranean sediments

9 01 2010

NOTE TO THE EDITOR

Isolation of alkane-degrading bacteria from deep-sea Mediterranean sediments

Y. Tapilatu, M. Acquaviva, C. Guigue, G. Miralles, J.-C. Bertrand and P. Cuny

Laboratoire de Microbiologie Géochimie et Ecologie Marines, CNRS/INSU, UMR 6117, Centre d’Océanologie de Marseille, Université de la Méditerranée, Campus de Luminy, Case 901, Marseille Cedex 9, France

Correspondence to Philippe Cuny, Centre d’Océanologie de Marseille, LMGEM, UMR 6117 CNRS – INSU, Campus de Luminy, Case 901, 13288 Marseille Cedex 9, France. E-mail: philippe.cuny@univmed.fr

Copyright Journal compilation © 2010 The Society for Applied Microbiology

KEYWORDS Alcanivorax • Alkane-degrading bacteria • deep-sea sediments

Abstract

Aims: To isolate and identify alkane-degrading bacteria from deep-sea superficial sediments sampled at a north-western Mediterranean station.

Methods and Results: Sediments from the water/sediment interface at a 2400 m depth were sampled with a multicorer at the ANTARES site off the French Mediterranean coast and were promptly enriched with Maya crude oil as the sole source of carbon and energy. Alkane-degrading bacteria belonging to the genera Alcanivorax, Pseudomonas, Marinobacter, Rhodococcus and Clavibacter-like were isolated, indicating that the same groups were potentially involved in hydrocarbon biodegradation in deep sea as in coastal waters.

Conclusions: These results confirm that members of Alcanivorax are important obligate alkane degraders in deep-sea environments and coexist with other degrading bacteria inhabiting the deep-subsurface sediment of the Mediterranean.

Significance and Impact of the Study: The results suggest that the isolates obtained have potential applications in bioremediation strategies in deep-sea environments and highlight the need to identify specific piezophilic hydrocarbon-degrading bacteria (HCB) from these environments.


2009/1378: received 6 August 2009, revised 24 October 2009 and accepted 25 October 2009

DIGITAL OBJECT IDENTIFIER (DOI) 10.1111/j.1472-765X.2009.02766.x

Artikel ini bisa diunduh selengkapnya di www.blackwell-synergy.com.

yht 090110





Kumpulan Makalah Seminar Ilmiah Bamus PPI Prancis 2008

16 05 2009

4e26Seminar Ilmiah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Prancis (PPI Prancis) telah diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 29 November 2008 sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan Bamus PPI Prancis tahun 2008.  Dengan mengusung tema ”Meningkatkan Persatuan antar Pelajar Indonesia di Prancis dan Memajukan Pendidikan Berwawasan Internasional Guna Mengatasi Permasalahan Bangsa Indonesia di Era Globalisasi”, seminar ini mengkaji sejumlah masalah, peluang, hambatan serta resiko yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.

Lima pemakalah (beserta makalah yang dapat diunduh dalam format pdf, klik pada judul) yang terdiri dari para mahasiswa pasca sarjana dan post-doktorat di berbagai universitas di Prancis, adalah:

1.    Sudarko (Post-doktor di Laboratoire Interuniversitaire des Systèmes Atmosphériques, Université Paris 12)
dan Jaka Aminata (Doktorat Sciences Economiques, Université Paul Verlaine, Metz)
Economics Open Source

2.    Aditya Trenggono (Doktorat CEA Saclay/DSM/IRAMIS/SPAM/LFP CEA CNRS URA Giv sur Yvette)                  Ilmu dan Teknologi Nano untuk Pembangunan Indonesia

3.    Endra Saleh Atmawidjaja (Doktorat Bidang Urbanisme, Institut d’Urbanisme de Lyon, Université Lumière           Lyon 2)
Masalah Banjir pada Kota-kota Indonesia : dari Pendekatan Struktural ke Non-struktural

4.    Fadjar Hari Mardiansjah (Doktorat Bidang Urbanisme, Université Paris VII dan Université Marne-la-Vallée, Paris)
Tantangan Pengelolaan Berkelanjutan terhadap Urbanisme Wilayah di Indonesia dan Implikasinya pada Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Pembangunan Perkotaan di Kota-kota Kecil dan Menengah

Semoga kumpulan makalah seminar ini bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca.

Marseille, medio Mei 2009

Yosmina TAPILATU
Ketua PPI Marseille 2008/2009





Pentingkah Mandi Matahari (Sunbathing)?

15 05 2009
Siang itu cuaca kota Marseille di musim semi sangat cerah, sang surya memancarkan energi kalornya yang menyengat dan memanggang setiap material yang berada di udara terbuka. Bagiku, hal ini bukanlah istimewa setidaknya di kampungku sebagai daerah tropis , sepanjang tahun selalu disirami cahaya matahari meski diselingi curah hujan dan kelembaban udara yang tinggi. Setiap hari tubuhku dibanjiri keringat saat bepergian keluar rumah, bahkan jika perlu aku memakai pelindung untuk melindungi kepalaku dari sinar matahari yang menurutku hanya akan membuat kepalaku pening. Mayoritas kaum hawa pun menghindarinya, karena kuatir dengan kehalusan kulitnya yang bakal rusak dan mengancam kecantikan mereka. Namun demikian, tentu saja berbeda ceritanya dengan sahabat-sahabatku yang berasal dari belahan bumi yang lain (iklim temperate), sengatan raja siang ini adalah momen indah yang ditunggu-tunggu. Tempat2 terbuka yang berhubungan langsung dengan radiasi matahari seperti pantai, tepian sungai pun akan menjadi incaran mereka untuk merebahkan tubuhnya tanpa dibaluti busana dan berjemur berjam-jam setelah melewati musim dingin yang menggigil sepanjang tiga bulan.
Hari itu, setelah melewati setengah hari Travaux Pratique (TP) di laboratorium, mengerjakan beberapa sample air laut mulai dari analisa oksigen terlarut, nitrate, phosphate dan chlorophylle kamipun bergegas untuk makan siang. Seorang teman menoleh padaku dan bertutur :
 » Halik, on fait du pique-nique ? »
tentu saja akupun menjawab dengan polos,
« ce week-end ci ? »
Temanku ketawa dan kembali menjawab:
« Non ! Halik, maintenant ! »
akupun mulai nangkap, wah bencana deh ! kayaknya anak2 ini nih pada mau nyari tempat di mana matahari paling terik buat makan siang di sana. Sedetik kemudian ada teman yang lain berujar,
« On cherche du soleille »,
dengan berat hati aku cuman menjawab,
« d’accord ! »
Setelah beres-beres, kami pun keluar dari ruang TP sembari mencari-cari tempat yang layak untuk dijadikan sebagai tempat yang nyaman dan tenang buat menikmati rezeki Tuhan pada hari itu. Kebetulan Laboratorium Centre of Oceanologie Marseille ini memang sengaja dibangun di tepi pantai. Dengan berat hati aku pun menuruti dan mengikuti kemauan mereka menyusuri pantai dengan substrat pasir berbatu dan sesekali dihempas ombak-ombak kecil ini, sepanjang pantai terlihat orang yang sedang memanggang tubuhnya tanpa sehelai benang pun hingga kulit tubuhnya terlihat merah seperti kepiting rebus. Mereka pasti menyadari bahwa efek buruk sinar ultraviolet adalah merusak kulit tubuh, tapi kenapa mereka seolah mengabaikannya ? sungguh aneh ! bahkan mungkin menyebabkan kanker kulit, nah lo ? Kalo acara berjemurnya di pagi hari sih mungkin baik untuk kesehatan karena sinar matahari pagi sangat berguna untuk mengolah pro-vitamin D menjadi vitamin D, membantu penyerapan kalsium untuk penguatan tulang bahkan sejumlah penelitian menyebutkan bahwa aktivitas ini dapat mencegah osteoporosis dan diabetes. Nah, bagaimana dengan mandi matahari di siang bolong ? Kadang aku berpikir sambil terheran-heran, nih orang-orang kok menikmati teriknya mentari bak aku menikmati indahnya sang purnama di malam hari ketika masih di kampung puluhan tahun silam. Kalo menikmati indahnya sang chandera di malam hari mungkin jauh lebih sejuk dan tenang apa lagi di desa, sambil menikmati beningnya muka laut dan sejenak riak2 kecil ombak memukul pelan tebing pantai yang kokoh.

Semenjak awal aku menginjakkan kakiku di bumi Marseille pun telah aku alami hal seperti ini. Seorang sahabat, sebut saja Jullian, kalo saja cuaca cerah dan ada sinar matahari, pasti dia udah menyemplung kan tubuhnya di hamparan rerumputan di taman kampus sambil membaca. Karena gak enak hati akupun selalu menuruti ide dan gagasan temanku ini, akibatnya flek hitam kini menjamur di kulit wajahku. Si julian ini selalu mengatakan bahwa gak usah khwatir, ils vont partir naturallement !. Pantas saja kulit tubuh mereka meskipun agak terang dibandingkan dengan warna kulit orang tropis tapi sekujur tubuh mereka sering dipenuhi bintik2 dan flek berwarna hitam kecoklat-coklatan belum lagi keriput di kulit wajah yang terlalu dini bagi mereka.

Sepanjang mulut kami melahap santapan siang yang sengaja dibawa dari rumah masing2, aku bersama gadis2 prancis ini tak henti2nya ngobrol dan berdiskusi sembari menengadahkan wajah ke arah datangnya sinar matahari. Mungkin budaya mereka yang sangat berbeda dengan kita dimana waktu istrahat siang selama dua jam, memang benar2 dihabiskan di tempat makan sambil berdiskusi ataupun obrolan ringan lainnya. Bagiku, ini adalah perjuangan yang cukup berat mengikuti ritual mereka dimana mereka selalu betah berjam2 di tempat makan sembari ngobrol yang kadang gak jelas arah dan tujuannya. Mungkin prinsip mereka adalah pada saat bekerja, tak ada lagi topic obrolan tentang hal2 di luar pekerjaan. Terlihat mata mereka mulai silau dan kulit wajah mulai memerah karena berhadapan langsung dg arah datangnya radiasi matahari. Jaket dan syal yang tadinya dipakai mulai dicopot satu persatu dan yang tersisa hanyalah yang menutupi bagian dada (Oh..ho…). Dua jam sudah kami lewati, di tepi pantai kini kamipun beranjak pulang sembari membereskan semua sampah2 sisa makanan hingga tak ada satupun tersisa. Tiga hari kemudian aku baru sadar flek hitam di kulit wajahku bak jelaga (oh là là…….!!)

Marseille, 14 Mei 2009. Tulisan ini ditampilkan kembali dari Facebook pengarang.

Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009





Negeri yang terlupakan

15 05 2009
Kepulauan Sula adalah salah satu kabupaten di wilayah paling selatan Maluku Utara yang
terdiri dari gugusan pulau-pulau antara lain Sulabesi, Mangole, Taliabu serta beberapa
buah pulau kecil lainnya, salah satunya adalah Lifamatola yang terletak paling timur.
Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran beberapa tahun yang lalu ini, jika
dipandang sekilas, tak tampak keistimewaan tertentu jika dibandingkan dengan
kabupaten-kabupaten lainnya yang ¨seangkatan¨ baik dari letak geografis, sumberdaya
alam maupun sumberdaya manusianya bahkan jika dilihat rentang percepatan
pembangunan semenjak region ini didirikan, sama sekali tak ada satu progres yang berarti.

Terlepas dari semua itu, tahukah anda bahwa wilayah ini telah menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia khususnya di bidang oceanografi (Ilmu Kelautan) semenjak beberapa puluh tahun yang lalu ? Adapun penyebabnya adalah, di bagian timur wilayah ini terdapat salah satu selat yang bernama Selat Lifamatola yang terletak antara Pulau Obi dan Pulau Mangole. Selat ini begitu menarik karena secara fisik merupakan salah satu lintasan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), fenomena yang terjadi dimana perpindahan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera India yang melalu jalur perairan timur Indonesia sepanjang tahun.

Pada tahun 1982, perairan ini telah diteliti oleh seorang oseanografer Belanda yang bernama Hendrik van Akeen melalu survey hydrografinya telah mengungkapkan bahwa ada semacam Sill (ridge = tonjolan) pada kedalaman sekitar 1880 meter yang berfungsi sebagai flushing (pencucian massa air) dari massa air dalam dimana aliran massa air dari samudera Pasifik sebelum menuju laut Banda. Hal ini didukung oleh hasil penelitian saya sendiri pada tahun 2004 juga menemukan pada kedalaman 400 – 1000 meter pada lokasi dimana sill berada , melalui sebaran melintang temperatue terlihat pengangkatan massa air dimana fenomena ini sangat berarti di bidang biologi perikanan karena pengangkatan massa air dari dasar perairan ini disertai dengan pengangkatan nutrient (senyawa kimia yang dibutuhkan oleh fitoplankton). Tak heran jika wilayah ini menjadi daerah penangkapan utama para nelayan sepanjang tahun dan tak jarang pula nelayan asing berkeliaran tanpa tercium oleh aparat keamanan.

Pada tahun 2004 – 2007, pemerintah Indonesia melalui BRKP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan) telah bekerja sama dengan beberapa negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Perancis telah melakukan satu monitoring continu terhadap fenomena ARLINDO yang bernama INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di mana salah satu lokasinya adalah di Selat Lifamatola, namun sayang sekali deployment instrument-nya gagal mengakuisisi data di wilayah ini, sdgkan wilayah2 lain seperti di selat makassar dan selat lombok ombay berhasil dan kini dalam tahap pengolahan data dan belum dipublikasi.

Memang jika dipikir-pikir, riset di bidang kelautan selain membutuhkan para ahli yang berkompeten juga membtuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun demikian saya tetap optimis bahwa jika pemerintah Indonesia memiliki political will ke arah ini, kita juga memiliki para ahli oseanografi yang tidak kalah dengan negara2 maju baik Amerika maupun negara Eropa lainnya.
Lewat tulisan ini saya mengajak agar putra-putri Sula yang masih muda dan energik mari kita sama2 membangun sula dengan memulainya dari laut.

Marseille, 10 Mei 2009. Tulisan ini ditampilkan kembali dari Facebook pengarang.

Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009





Pekan Budaya Indonesia, 12-16 Januari 2009

19 01 2009

Sebagai salah satu Program Kerja PPI Marseille tahun 2008/2009 bidang Sosial dan Budaya, Pekan Budaya Indonesia okicrop-wptelah dilaksanakan pada tanggal 12-16 Januari 2009. Kegiatan ini sendiri dilaksanakan sebagai sumbangan mahasiswa Indonesia dalam rangka bulan Asia, yang termasuk dalam program Bagian Budaya CROUS Aix-Marseille.

Program bertajuk Decouvre les cultures du monde dimaksudkan untuk memfasilitasi interaksi budaya antara mahasiswa Prancis dan mahasiswa yang datang dari berbagai negara. Dikemas dalam sub-program Bienvenue chez moi, bienvenue dans ma cuisine, setiap bulannya satu benua mendapat perhatian khusus terutama lewat masakan khas dalam bentuk menu du jour di restoran universitas, pameran (foto/literatur/benda seni) mengenai kehidupan di beberapa negara yang berasal dari benua tersebut, malam budaya dan sebagainya dalam suasana yang akrab dan penuh keramahan.

Untuk itu sejak akhir Oktober 2008 PPI Marseille telah menghubungi Bagian Budaya CROUS Aix-Marseille guna mengambil bagian dalam program tersebut. Kegiatan yang merupakan sumbangan PPI Marseille bertemakan Voyages aux pays de mille îles, dalam bentuk Pameran Foto, Cicipan Kudapan khas Indonesia, Hari Indonesia dan Sanggar Batik. Adapun tujuan PPI Wilayah Marseille ikut berpartisipasi adalah untuk :

1. Memperkenalkan negara Indonesia, terutama dari segi kekayaan seni, budaya dan kulinernya ;

2. Mengintensifkan hubungan Indonesia-Prancis ;

3. Mempromosikan pertukaran di bidang seni dan budaya antara Indonesia dan Prancis ;

4. Memperkaya pengetahuan mahasiswa yang kuliah di universitas Aix-Marseille akan seni dan budaya Indonesia

Karena alasan teknis, waktu pelaksanaan yang semula direncanakan pada tanggal 01-05 Desember 2008, digeser ke tanggal 12-16 Januari 2009.

1. Pameran Foto dan Cicipan Kudapan Khas Indonesia

img_8573 Pembukaan pameran foto secara resmi dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2009 pada pukul 11.30 waktu setempat atau bergeser 15 menit dari yang telah direncanakan .

Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Gaël Monfrier, Direktur CLOUS Marseille atas nama Bapak Vincentdscn2673 Labouret, Direktur CROUS Aix-Marseille dan Ibu Nahari Agustini, Konsul Jendral RI di Marseille, dihadiri oleh undangan yang berasal dari kepala korps konsuler, perwakilan pemerintah daerah dan lokal, fotojurnalis, mahasiswa dan masyarakat umum.

Bertemakan keindahan alam, budaya, pertunjukan seni dan bangunan tradisional atau bernilai sejarah, 23 foto yang dipamerkan mendapat perhatian khusus dari para pengunjung.

Kudapan khas Indonesia yang dihidangkan juga mendapatkan pujian dari para pengunjung, dan banyak di antara mereka yang ingin mengetahui resep masing-masing hidangan. Bahan dekorasi pun tak luput dari perhatian, seperti misalnya wayang, kain batik dan tifa. Bahkan pakaian tradisional yang dikenakan anggota PPI Wilayah Marseille dan buku-buku yang dipajang juga mendapat perhatian antusias para undangan.

slide13Sayangnya di luar anggota PPI Wilayah Marseille, hanya ada kurang dari sepuluh mahasiswa yang menghadiri kegiatan ini. Hal ini disebabkan karena waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan ujian semester yang masih berlangsung di beberapa fakultas di lingkungan Universitas Aix-Marseille.

Berita singkat mengenai kegiatan pameran foto juga dapat dibaca di majalah khusus fotografi Indonesia.

2. Hari Indonesia

img_8644Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2009 bertempat di Restoran Universitas di kampus Luminy, 171, Avenue de Luminy, mulai jam 12.00 hingga selesai, memanfaatkan waktu makan siang mahasiswa dan pegawai lingkungan fakultas. Persiapan dilakukan sejak jam 8 pagi waktu setempat dengan materi dekorasi yang dipinjamkan oleh pihak KJRI Marseille. Seluruh persiapan rampung lima belas menit menjelang acara dimulai.

Beberapa pertunjukan yang dilakukan meliputi :

  1. Tari Sigeh Pengunten, oleh Arie Fitria, mahasiswa S2 Urbanisme dari Lyon
  2. Pertunjukan Suling oleh Luth, mahasiswa S3 Pertanian dari Rennes
  3. Pertunjukan Angklung oleh anggota PPI Marseille
  4. Nyanyian Lagu Daerah « Hela Rotan » dan  « Yamko Rambe Yamko » oleh anggota PPI Prancis
  5. Tari Poco-poco oleh anggota PPI Prancis

slide2Pada umumnya pertunjukan yang ditampilkan mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa, terutama pada saat tari Poco-poco di mana pegawai restoran pun ikut menari bersama. Mengamati dinamisme tarian ini, Bagian Budaya CROUS Aix-Marseille kemudian menawarkan PPI Wilayah Marseille untuk berpartisipasi pada acara Malam Tarian Asia yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 Januari 2009 bertempat di Aix-en-Provence. Kegiatan ini juga diberitakan pada blog Bagian budaya CROUS Aix Marseille, situs resmi Konsulat Jendral RI di Marseille dan situs resmi Departement Luar Negeri RI.

slide4

3. Sanggar Batik

slide51Kegiatan ini merupakan pengenalan teknik Batik tulis kepada para mahasiswa di lingkungan universitas Aix-Marseille. Untuk itu secara khusus PPI Marseille mengundang Luth sebagai pengajar. Kegiatan ini berlangsung pada 15 Januari 2009 dari jam 18.00 hingga 20.00 di ruangan aktivitas mahasiswa yang dikelola oleh Pusat Budaya Mahasiswa di Luminy. Peralatan membatik (canting, wajan dan lilin) dipinjamkan oleh Bu Ninik dari Association Amis d’Indonésie (AAI) Toulouse, sementara alat-alat lainnya disediakan oleh Bagian Budaya CROUS Aix-Marseille. Materi dekorasi ruangan dipinjamkan oleh KJRI Marseille.

Sanggar ini dikunjungi sekitar dua puluh orang, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum, dan ada sekitar sepuluhslide61 orang yang kemudian terlibat dalam kegiatan, baik secara keseluruhan maupun hanya pada salah satu proses membatik. Sedikitnya pengunjung sekali lagi merupakan dampak dari ujian semester yang sementara dan sudah berlangsung di Luminy, serta waktu dan lokasi pelaksanaan yang kurang memadai bagi para mahasiswa untuk datang menunjukkan apresiasi mereka. Secara umum sanggar ini mendapat sambutan yang hangat dari para pengunjung, dan mereka berharap agar dapat tetap menjalin kontak dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Marseille dan lingkungan sekitarnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Ibu Konsul Jendral RI di Marseille Nahari Agustini

2. Ibu Dorothée Alauzet, PJ Service Culturel CROUS Aix-Marseille

3. Para Pejabat KJRI Marseille : Bapak Benson Rea, Ibu Dieny Maya Sari, Ibu Ourina, Bapak Prasetyo

4. Ibu-Ibu Dharma Wanita KJRI Marseille

5. Para Staf KJRI : Bapak Willy Siahaan, Bapak Asiz Surna, Bapak Darmadi Asiz

6. Ibu Delphine Redorat, Déléguée Culturel

7. Bapak Gael Monfrier, Direktur CLOUS Marseille

8. Bapak Denis Beck, Direktur Restaurant Universitaire Luminy beserta tim restau U

9. Ibu Anne Viard, Direktris Cité Universitaire Luminy

10. Arie Fitria

11. Luth

12. Ibu Ninik Taurand, AAI Toulouse

13. Serta semua pihak yang tak dapat kami sebutkan satu persatu

yht190109





Seminar Ilmiah Internal PPI Marseille

5 12 2008

Utilisation des microorganismes et des vegetaux comme agents de bioremediation

Pembicara : Dr. Agung Dhamar SYAKTI

– Divisi Bioteknologi Lingkungan, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-Institut Pertanian Bogor.

-Alumni Universitas Aix Marseille III Ecole Doctorale Science de l’environnement, spécialité Océanologie

– Program Sarjana Perikanan dan Kelautan Universitas Jenderal SOEDIRMAN


Presentasi dan tanya jawab dilakukan dalam bahasa Prancis.

Tanggal : Sabtu, 1 November 2008 (14.15 – 18.15)

Tempat : KJRI di Marseille, 25, Boulevard Carmagnole, 13008 Marseille

Peserta : Dessi Wulandhari, Dieny Maya, Fanny Nanlohy, Halikuddin Umasangaji, Irsan Olii, Shauki Albihan, Yosmina Tapilatu

seminar-internal-011108-32 Minyak bumi dan berbagai bahan hasil olahannya merupakan sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Di samping tumpahan yang terjadi secara alamiah, eksploitasi dan penggunaannya beresiko menghasilkan limbah yang berbahaya bagi makhluk hidup dan ekosistem. Tujuan dari studi ini adalah mengukur efisiensi penggunaan mikroorganisme dan tumbuhan sebagai agen bioremediasi pada suatu area yang tercemar oleh minyak bumi dan turunannya.

Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel. Penanganan bioremediasi dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ.

Teknologi bioremediasi dilakukan dengan system one top solution (close system) dan dengan pendekatan multi-process remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum kontaminasi ataupun pencemaran terjadi dengan dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkontrol atau bahkan mengeliminasi B3 hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman bagi lingkungan.





Viability, growth and toxicity of Alexandrium catenella and Alexandrium minutum (Dinophyceae) following ingestion and gut passage in the oyster Crassostrea gigas

19 10 2008

Mohamed Laabir1,a, Zouher Amzil2, Patrick Lassus2, Estelle Masseret1, Yosmina Tapilatu1, Romain De Vargas1 and Daniel Grzebyk1

Aquat. Living Resour. 20, 51–57 (2007)

1 Laboratoire Ecosystèmes Lagunaires, UMR CNRS-UM2 5119 case 093, Université Montpellier 2, Place Eugène Bataillon, 34095 Montpellier, France
2 Laboratoire Phycotoxines, IFREMER, Centre de Nantes, BP 21105, 44311 Nantes, France

Received 3 November 2006; Accepted 30 March 2007

Abstract – Adult oysters Crassostrea gigas were experimentally fed with Alexandrium catenella and Alexandrium minutum which are responsible for recurrent toxic blooms in French coastal waters. C. gigas produced faeces and pseudofaeces containing intact and viable temporary pellicular cysts of these two Paralytic toxin producing species.
When incubated in favourable conditions, these pellicular cysts were able to germinate at high rates (between 74 and 94%) and the resulting vegetative cells divided with growth rates close to the non- ingested cells (control). The toxin profile of the vegetative cells originated from the germinated temporary cysts was analyzed by liquid chromatography/fluorescence detection. Total toxin content of newly germinated cells was lower than that of cultured cells. Besides, cell contents of C2, B1, B2 and dcGTX3 toxins featured some changes. Our results suggest that the increased spreading of toxic dinoflagellates through the transfer of shellfish from contaminated towards pristine coastal areas cannot be ruled out. We also suggest that pellicular cysts and newly germinated cells could represent a potential way for the transfer of paralytic toxins toward the higher trophic levels.

Key words: Alexandrium catenella / Alexandrium minutum / Cysts / Oysters / Paralytic Shellfish Poisoning

Résumé – Viabilité, croissance et toxicité d’Alexandrium catenella et Alexandrium minutum (Dinophyceae)
après leur ingestion et leur transit stomacal chez l’huître creuse Crassostrea gigas. Des huîtres creuses adultes Crassostrea gigas ont été alimentées en laboratoire avec Alexandrium catenella et Alexandrium minutum, deux dinoflagellés responsables de la bioaccumulation de toxines paralysantes dans les mollusques cultivés dans les eaux côtières françaises. C. gigas a produit des fèces et des pseudofèces contenant des kystes pelliculaires intacts et viables des deux dinoflagellés testés. Une fois replacés dans des conditions de culture favorables, ces kystes temporaires ont germé dans des proportions élevées (entre 74 et 94 %) et les cellules végétatives résultantes se sont divisées avec des taux de croissance proches de ceux des cellules non ingérées (témoins). Le profil toxinique des cellules végétatives, issues des kystes ayant germé, a été analysé par chromatographie liquide/fluorescence. La quantité totale de toxines dans les
cellules végétatives nouvellement formées était plus faible que dans les cellules non ingérées. Par ailleurs, les contenus cellulaires en toxines C2, B1, B2, et dcGTX3 ont montré des changements. Nos résultats suggèrent que l’extension des efflorescences de dinoflagellés toxiques pourrait être causée par des transferts de mollusques bivalves depuis des zones contaminées vers des zones vierges. Il est suggéré, par ailleurs, que les kystes pelliculaires et les cellules végétatives issues de ces kystes peuvent participer au transfert des toxines paralysantes dans les niveaux trophiques supérieurs.

Untuk lengkapnya silakan diunduh di: File Pdf Artikel Ilmiah Laabir 2007

yht. 191008.