Kumpulan Makalah Seminar Ilmiah Bamus PPI Prancis 2008

16 05 2009

4e26Seminar Ilmiah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Prancis (PPI Prancis) telah diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 29 November 2008 sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan Bamus PPI Prancis tahun 2008.  Dengan mengusung tema ”Meningkatkan Persatuan antar Pelajar Indonesia di Prancis dan Memajukan Pendidikan Berwawasan Internasional Guna Mengatasi Permasalahan Bangsa Indonesia di Era Globalisasi”, seminar ini mengkaji sejumlah masalah, peluang, hambatan serta resiko yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.

Lima pemakalah (beserta makalah yang dapat diunduh dalam format pdf, klik pada judul) yang terdiri dari para mahasiswa pasca sarjana dan post-doktorat di berbagai universitas di Prancis, adalah:

1.    Sudarko (Post-doktor di Laboratoire Interuniversitaire des Systèmes Atmosphériques, Université Paris 12)
dan Jaka Aminata (Doktorat Sciences Economiques, Université Paul Verlaine, Metz)
Economics Open Source

2.    Aditya Trenggono (Doktorat CEA Saclay/DSM/IRAMIS/SPAM/LFP CEA CNRS URA Giv sur Yvette)                  Ilmu dan Teknologi Nano untuk Pembangunan Indonesia

3.    Endra Saleh Atmawidjaja (Doktorat Bidang Urbanisme, Institut d’Urbanisme de Lyon, Université Lumière           Lyon 2)
Masalah Banjir pada Kota-kota Indonesia : dari Pendekatan Struktural ke Non-struktural

4.    Fadjar Hari Mardiansjah (Doktorat Bidang Urbanisme, Université Paris VII dan Université Marne-la-Vallée, Paris)
Tantangan Pengelolaan Berkelanjutan terhadap Urbanisme Wilayah di Indonesia dan Implikasinya pada Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Pembangunan Perkotaan di Kota-kota Kecil dan Menengah

Semoga kumpulan makalah seminar ini bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca.

Marseille, medio Mei 2009

Yosmina TAPILATU
Ketua PPI Marseille 2008/2009





Negeri yang terlupakan

15 05 2009
Kepulauan Sula adalah salah satu kabupaten di wilayah paling selatan Maluku Utara yang
terdiri dari gugusan pulau-pulau antara lain Sulabesi, Mangole, Taliabu serta beberapa
buah pulau kecil lainnya, salah satunya adalah Lifamatola yang terletak paling timur.
Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran beberapa tahun yang lalu ini, jika
dipandang sekilas, tak tampak keistimewaan tertentu jika dibandingkan dengan
kabupaten-kabupaten lainnya yang ¨seangkatan¨ baik dari letak geografis, sumberdaya
alam maupun sumberdaya manusianya bahkan jika dilihat rentang percepatan
pembangunan semenjak region ini didirikan, sama sekali tak ada satu progres yang berarti.

Terlepas dari semua itu, tahukah anda bahwa wilayah ini telah menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia khususnya di bidang oceanografi (Ilmu Kelautan) semenjak beberapa puluh tahun yang lalu ? Adapun penyebabnya adalah, di bagian timur wilayah ini terdapat salah satu selat yang bernama Selat Lifamatola yang terletak antara Pulau Obi dan Pulau Mangole. Selat ini begitu menarik karena secara fisik merupakan salah satu lintasan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), fenomena yang terjadi dimana perpindahan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera India yang melalu jalur perairan timur Indonesia sepanjang tahun.

Pada tahun 1982, perairan ini telah diteliti oleh seorang oseanografer Belanda yang bernama Hendrik van Akeen melalu survey hydrografinya telah mengungkapkan bahwa ada semacam Sill (ridge = tonjolan) pada kedalaman sekitar 1880 meter yang berfungsi sebagai flushing (pencucian massa air) dari massa air dalam dimana aliran massa air dari samudera Pasifik sebelum menuju laut Banda. Hal ini didukung oleh hasil penelitian saya sendiri pada tahun 2004 juga menemukan pada kedalaman 400 – 1000 meter pada lokasi dimana sill berada , melalui sebaran melintang temperatue terlihat pengangkatan massa air dimana fenomena ini sangat berarti di bidang biologi perikanan karena pengangkatan massa air dari dasar perairan ini disertai dengan pengangkatan nutrient (senyawa kimia yang dibutuhkan oleh fitoplankton). Tak heran jika wilayah ini menjadi daerah penangkapan utama para nelayan sepanjang tahun dan tak jarang pula nelayan asing berkeliaran tanpa tercium oleh aparat keamanan.

Pada tahun 2004 – 2007, pemerintah Indonesia melalui BRKP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan) telah bekerja sama dengan beberapa negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Perancis telah melakukan satu monitoring continu terhadap fenomena ARLINDO yang bernama INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di mana salah satu lokasinya adalah di Selat Lifamatola, namun sayang sekali deployment instrument-nya gagal mengakuisisi data di wilayah ini, sdgkan wilayah2 lain seperti di selat makassar dan selat lombok ombay berhasil dan kini dalam tahap pengolahan data dan belum dipublikasi.

Memang jika dipikir-pikir, riset di bidang kelautan selain membutuhkan para ahli yang berkompeten juga membtuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun demikian saya tetap optimis bahwa jika pemerintah Indonesia memiliki political will ke arah ini, kita juga memiliki para ahli oseanografi yang tidak kalah dengan negara2 maju baik Amerika maupun negara Eropa lainnya.
Lewat tulisan ini saya mengajak agar putra-putri Sula yang masih muda dan energik mari kita sama2 membangun sula dengan memulainya dari laut.

Marseille, 10 Mei 2009. Tulisan ini direposting dari Facebook.

Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009





Seminar Ilmiah Internal PPI Marseille

5 12 2008

Utilisation des microorganismes et des vegetaux comme agents de bioremediation

Pembicara : Dr. Agung Dhamar SYAKTI

- Divisi Bioteknologi Lingkungan, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-Institut Pertanian Bogor.

-Alumni Universitas Aix Marseille III Ecole Doctorale Science de l’environnement, spécialité Océanologie

- Program Sarjana Perikanan dan Kelautan Universitas Jenderal SOEDIRMAN


Presentasi dan tanya jawab dilakukan dalam bahasa Prancis.

Tanggal : Sabtu, 1 November 2008 (14.15 – 18.15)

Tempat : KJRI di Marseille, 25, Boulevard Carmagnole, 13008 Marseille

Peserta : Dessi Wulandhari, Dieny Maya, Fanny Nanlohy, Halikuddin Umasangaji, Irsan Olii, Shauki Albihan, Yosmina Tapilatu

seminar-internal-011108-32 Minyak bumi dan berbagai bahan hasil olahannya merupakan sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Di samping tumpahan yang terjadi secara alamiah, eksploitasi dan penggunaannya beresiko menghasilkan limbah yang berbahaya bagi makhluk hidup dan ekosistem. Tujuan dari studi ini adalah mengukur efisiensi penggunaan mikroorganisme dan tumbuhan sebagai agen bioremediasi pada suatu area yang tercemar oleh minyak bumi dan turunannya.

Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel. Penanganan bioremediasi dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ.

Teknologi bioremediasi dilakukan dengan system one top solution (close system) dan dengan pendekatan multi-process remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum kontaminasi ataupun pencemaran terjadi dengan dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkontrol atau bahkan mengeliminasi B3 hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman bagi lingkungan.





Viability, growth and toxicity of Alexandrium catenella and Alexandrium minutum (Dinophyceae) following ingestion and gut passage in the oyster Crassostrea gigas

19 10 2008

Mohamed Laabir1,a, Zouher Amzil2, Patrick Lassus2, Estelle Masseret1, Yosmina Tapilatu1, Romain De Vargas1 and Daniel Grzebyk1

Aquat. Living Resour. 20, 51–57 (2007)

1 Laboratoire Ecosystèmes Lagunaires, UMR CNRS-UM2 5119 case 093, Université Montpellier 2, Place Eugène Bataillon, 34095 Montpellier, France
2 Laboratoire Phycotoxines, IFREMER, Centre de Nantes, BP 21105, 44311 Nantes, France

Received 3 November 2006; Accepted 30 March 2007

Abstract – Adult oysters Crassostrea gigas were experimentally fed with Alexandrium catenella and Alexandrium minutum which are responsible for recurrent toxic blooms in French coastal waters. C. gigas produced faeces and pseudofaeces containing intact and viable temporary pellicular cysts of these two Paralytic toxin producing species.
When incubated in favourable conditions, these pellicular cysts were able to germinate at high rates (between 74 and 94%) and the resulting vegetative cells divided with growth rates close to the non- ingested cells (control). The toxin profile of the vegetative cells originated from the germinated temporary cysts was analyzed by liquid chromatography/fluorescence detection. Total toxin content of newly germinated cells was lower than that of cultured cells. Besides, cell contents of C2, B1, B2 and dcGTX3 toxins featured some changes. Our results suggest that the increased spreading of toxic dinoflagellates through the transfer of shellfish from contaminated towards pristine coastal areas cannot be ruled out. We also suggest that pellicular cysts and newly germinated cells could represent a potential way for the transfer of paralytic toxins toward the higher trophic levels.

Key words: Alexandrium catenella / Alexandrium minutum / Cysts / Oysters / Paralytic Shellfish Poisoning

Résumé – Viabilité, croissance et toxicité d’Alexandrium catenella et Alexandrium minutum (Dinophyceae)
après leur ingestion et leur transit stomacal chez l’huître creuse Crassostrea gigas. Des huîtres creuses adultes Crassostrea gigas ont été alimentées en laboratoire avec Alexandrium catenella et Alexandrium minutum, deux dinoflagellés responsables de la bioaccumulation de toxines paralysantes dans les mollusques cultivés dans les eaux côtières françaises. C. gigas a produit des fèces et des pseudofèces contenant des kystes pelliculaires intacts et viables des deux dinoflagellés testés. Une fois replacés dans des conditions de culture favorables, ces kystes temporaires ont germé dans des proportions élevées (entre 74 et 94 %) et les cellules végétatives résultantes se sont divisées avec des taux de croissance proches de ceux des cellules non ingérées (témoins). Le profil toxinique des cellules végétatives, issues des kystes ayant germé, a été analysé par chromatographie liquide/fluorescence. La quantité totale de toxines dans les
cellules végétatives nouvellement formées était plus faible que dans les cellules non ingérées. Par ailleurs, les contenus cellulaires en toxines C2, B1, B2, et dcGTX3 ont montré des changements. Nos résultats suggèrent que l’extension des efflorescences de dinoflagellés toxiques pourrait être causée par des transferts de mollusques bivalves depuis des zones contaminées vers des zones vierges. Il est suggéré, par ailleurs, que les kystes pelliculaires et les cellules végétatives issues de ces kystes peuvent participer au transfert des toxines paralysantes dans les niveaux trophiques supérieurs.

Untuk lengkapnya silakan diunduh di: File Pdf Artikel Ilmiah Laabir 2007

yht. 191008.





Bioremediasi Lingkungan

23 10 2004




Bacterial phospholipid molecular species analysis by ion-pair reversed-phase liquid chromatography/electrospray ionization/mass spectrometry

17 04 2004

Papers In Press, published online ahead of print April 21, 2004
J. Lipid Res., doi:10.1194/jlr.D300040-JLR200

Submitted on December 28, 2003
Revised on March 30, 2004
Accepted on April 6, 2004

Nicolas Mazzella, Josiane Molinet, Agung Dhamar Syakti, Alain Dodi, Pierre Doumenq, Jacques Artaud, and Jean-Claude Bertrand Laboratoire de Chimie Analytique de l’Environnement, Université d’Aix-Marseille III, Aix en Provence, Aix en Provence 13545

Corresponding Author: pierre.doumenq@univ.u-3mrs.fr

This work set out an optimization of the detection and separation of several phospholipid molecular species on a reversed phase column with the use of an ESI/MS compatible counter-ion. Afterward an application of this technique concerned a qualitative and quantitative analysis of bacterial membrane phospholipids extracted from Corynebacterium sp. strain 8. The phospholipid classes of strain 8 were identified as phosphatidylglycerol (PG), phosphatidylinositol (PI), cardiolipin (DPG) and a peculiar lipid compound: acyl phosphatidylglycerol (APG). Besides, most of the molecular species structures were elucidated and regarding PG, the fatty acid positions were clearly determined with the calculation of the sn-2/sn-1 intensity ratio of the fatty acyl chains fragments.





PERLUNYA ECONOMIC INTELLIGENCE DALAM PENGELOLAAN MONETER DAN PERBANKAN NASIONAL

17 02 2003

Oleh :
1) Dr. A. Farid Aulia, arasta@bi.go.id
2) Alfano Gokmatua, alfano@bi.go.id
Bank Indonesia, Jl MH Thamrin No. 2 Jakarta 10010
Centre de Research and Rétrospective de Marseille (CRRM)
Faculté des Sciences et Techniques de Saint Jérôme, http://crrm.u-3mrs.fr, Unversité Aix-Marseille III-13397 Marseille Cedex 20

KONSEP ECONOMIC INTELLIGENCE (EI)

Berakhirnya perang dingin di abad 20 telah menyebabkan adanya perubahan mendasar dalam definisi keamanan nasional. Saat ini keamanan nasional suatu negara lebih banyak dilihat dalam aspek kekuatan ekonomi daripada kapabilitas militernya. Lebih jauh lagi, tantangan terhadap perekonomian negara timbul seiring dengan semakin kuatnya paradigma �globalisasi�. Dalam ekonomi global tidak ada lagi perbedaan atau jarak dalam hubungan ekonomi domestik dan internasional.Dengan semakin cepatnya perputaran roda persaingan dalam lingkup nasional maupun internasional, proses inovasi dan peningkatan daya saing perlu dipercepat pula.


Pertanyaan mendasar adalah: Dapatkah suatu proses inovasi dan peningkatan daya saing usaha yang biasanya memakan waktu 2 tahun dapat dipercepat menjadi 2 bulan?
Untuk menjawab pertanyaan itu, dibutuhkan suatu terobosan yang dapat mengantarkan kita kepada percepatan untuk melakukan inovasi, terobosan tersebut dimungkinkan dengan kata kunci yang disebut dengan Economic Intelligence. Economic Intelligence (EI) atau intelijen ekonomi masih merupakan bidang baru di Indonesia pada umumnya, kendatipun riaknya sudah mulai terasa dan dikembangkan oleh beberapa institusi baik swasta maupun pemerintah, saya yakin dalam beberapa tahun mendatang Economic Intelligence di Indonesia akan semakin dirasakan penting/strategis bahkan dapat dianggap sebagai tools andalan yang harus menjadi bagian dari strategi bisnis suatu institusi (profit maupun non profit organization, swasta maupun pemerintah) bahkan untuk pelaku -pelaku individu.
Dalam skala global, saat ini term EI muncul seiring dengan perkembangan teknologi informasi (seperti revolusi Internet, database komersial international, datamining, bibliometri, searching engine, knowledge management, �) yang tak terelakkan. Kendatipun sebenarnya EI merupakan praktik lama, yaitu semenjak adanya persaingan/kompetisi dalam menentukan berbagai strategi untuk pencapaian tujuan, bahkan jauh sebelum revolusi IT seperti saat ini.


Belakangan ini EI merupakan senjata dalam kancah perang ekonomi (meliputi bisnis, industri, teknologi, perbankan dan sebagainya) yang dilakukan oleh para pelaku bisnis maupun dalam skup kenegaraan bahkan dalam skup multilateral countries seperti di Eropa (ex. Centre de Veille yang berpusat di Luxembourg dan Knowledge Management Centre di Belgia) dan Amerika Latin (ex. Inter American Development Banks).


Dalam EI kita dituntut kerjasama antar sector secara lebih luas, kita tidak dapat bekerja sendiri, namun perlu partisipasi sinergis antar berbagai lembaga strategis negara, swasta, militer/kepolisian, wartawan, pengamat dan individu-individu lainnya, sehingga tepat kiranya partisipasi dalam seminar pagi ini yang mengundang para pembicara dan audience dari berbagai kalangan.


Ada sebagian pakar EI yang mengatakan bahwa maju mundurnya suatu negara adalah tergantung kepada kemampuan/kekuatan negara tersebut di bidang intelijen ekonominya. Hal ini juga tentu berlaku untuk nilai kompetitivitas institusi atau perusahaan bisnis kita. Di dunia bisnis negara-negara maju, hasil rekomendasi dari economic intelligence unitnya sering menentukan arah dari perusahaan tersebut (ex. Renault, L’Oreal, Hewlett Packard, IBM, �).


Jadi sedemikian pentingnya EI dalam menentukan tingkat kemajuan suatu institusi/bangsa melalui berbagai rekomendasi intelijen seperti untuk melahirkan inovasi-inovasi baru (ex. Inovasi produk dalam perbankan dan system pembayaran) serta untuk menopang penentuan kebijakan-kebijakan strategis.
Perlu ditekankan disini bahwa EI tidak sama dengan kegiatan �spionase�. Kegiatan spionase berkonotasi illegal, sedangkan EI merupakan kegiatan legal. Pada dasarnya EI melakukan pemilahan dan pemrosesan data/informasi dan knowledge yang ada (formal dan informal), sehingga dapat dihasilkan suatu �new knowledge� (intelligence) atau sering disebut informasi strategis.


Seperti diketahui, bahwa salah satu hal yang berpengaruh dalam citra dan kredibilitas suatu institusi (khususnya untuk �non profit organization�) adalah sisi kualitas dari keputusan yang diambilnya, bagaimana institusi tersebut dapat responsif dan progresif terhadap berbagai tuntutan serta gejala aktual, terutama yang sehubungan dengan aspek-aspek ekonomi makro dan berbagai kemelut ekonomi yang ada diseputar kita seperti saat ini. Hal ini berarti, bahwa pengambil kebijakan di suatu institusi tersebut perlu didukung oleh penyediaan informasi yang relevan terutama informasi strategis.


Dengan alasan inilah, kini Bank Indonesia sedang mengkaji dan mempertimbangkan penerapan EI di dalam struktur /model yang sesuai dengan kepentingan Bank Indonesia. Pendefinisian model EI yang akan diterapkan dapat disesuaikan dengan iklim, budaya dan kepentingannya masing-masing, sehingga kita dapat saja mengenal model EI yang berbeda di berbagai instusi, perusahaan atau negara, seperti model EI di Eropa akan berbeda dengan di USA maupun Jepang.


Seperti kita ketahui bersama, bahwa Indonesia sebagai bagian integral dari sistem ekonomi dunia, tentu tidak bisa lepas dari berbagai pengaruh, kebijakan serta trend-trend global, yang tidak saja menyangkut sektor ekonomi tetapi juga menyangkut sektor-sektor lainnya seperti sosial, politik, budaya, hankam dan lain sebagainya. Hal ini berarti bahwa kita perlu senantiasa memperhatikan, mengamati dan melakukan analisis-analisis terhadap berbagai knowledge dari fenomena yang ada dan cara untuk memantaunya tentu melalui berbagai sumber informasi.


Sumber informasi ini sangat bervariasi, tidak saja berbentuk teks, audio, visual maupun dalam bentuk multimedia. Namun demikian secara umum dapat disarikan bahwa sumber informasi terdiri dari sumber informasi formal maupun informal. Dalam kondisi sekarang, di Indonesia masih dirasakan sulit untuk mendapatkan/akses ke berbagai sumber informasi tersebut, demikian juga dalam melakukan analisisnya secara otomatis. Hal ini tentu berbeda dengan negara-negara yang sudah maju, dimana proses akses/mendapatkan serta mengolah informasi itu sudah jauh lebih baik.


Dalam skala nasional, untuk meningkatkan kompetitivitas bangsa di berbagai bidang terutama di era persaingan global, Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis terutama dengan meningkatkan koordinasi serta kerjasama sinergis dengan komponen bangsa lainnya, baik pribadi, kelompok masyarakat/organisasi terutama antar institusi baik pemerintah maupun swasta.
Langkah-langkah kerjasama itu, pada akhirnya akan membentuk jaringan informasi nasional yang dapat saling memberikan umpan balik positif, serta secara bertahap dapat menunjang pembangunan negara yang semakin kuat atau paling tidak upaya pemulihan ekonomi kita saat ini dapat secara gradual ditingkatkan.


Tanpa mentalitas kebangsaan dan semangat kebersamaan sebagai bangsa Indonesia, proses pemulihan ekonomi kita akan berjalan lamban atau tidak akan tercapai. Dengan demikian dalam EI juga diperlukan model mental (mentality model atau institutional culture) yang sesuai (seperti kepekaan terhadap informasi, creative dan innovative, coordinative, visioner, �) sehingga dapat berjalan optimal.

 

BEBERAPA BATASAN ECONOMIC INTELLIGENCE
Economic Intelligence (EI) memainkan peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan-keputusan strategik dalam berbagai bidang (ekonomi, perdagangan, industri, dan sebagainya). Dengan adanya The Economic Espionage Act of 1996 di Amerika Serikat, EI berfungsi dalam mendukung negosiasi-negosiasi perdagangan serta membantu mengidentifikasi ancaman terhadap perusahaan-perusahaan Amerika yang muncul baik dari praktek spionase negara lain dan juga perdagangan yang tidak fair. Selanjutnya marilah kita mengenal beberapa batasan EI :
Komite Perencanaan di Perancis (1994) memberi definisi resmi mengenai EI yaitu �serangkaian aktivitas pengamatan, pengolahan dan proses penciptaan informasi strategis bagi pelaku ekonomi�. Lebih luas lagi, Francois Jakobiak memberikan definisi EI �tindakan-tindakan pengamatan terhadap berbagai informasi dan lingkungannya, dilanjutkan dengan pengolahan dan analisis terhadap informasi tersebut yang ditujukan untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis�.
Diane C. Snyder dan Sean Gregory dalam papernya memberi definisi bahwa �EI adalah segala intelligence mengenai sumberdaya, aktivitas, dan kebijakan ekonomi termasuk produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, keuangan, pajak, perdagangan komersial, dan aspek-aspek lain dalam sistem ekonomi internasional�. Dan Garth Hancock dari Center of Trade and Commercial Diplomacy at the Monterrey Institute for International Studies menawarkan definisi �kebijakan atau informasi ekonomi yang relevan, termasuk data teknis, keuangan, komersial, dan informasi mengenai pemerintah, serta penanaman modal asing (baik langsung dan tidak langsung) yang dapat membantu secara relatif produktivitas atau kompetitivitas dari perekonomian sekelompok organisasi dalam suatu negara�.
Dalam kalimat yang sederhana, dapat pula dikatakan bahwa EI merupakan: �suatu metodologi untuk mencermati dan mengolah berbagai informasi maupun gejolak serta berbagai perubahan eksternal lainnya, yang memiliki dampak strategis pada organisasi dan berguna untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis oleh pimpinan puncak organisasi�.
Dari definisi diatas, EI sangat berkaitan dengan penyediaan informasi strategis. Sebenarnya apa saja kriteria dari informasi strategis tersebut? Suatu informasi dikatakan �strategis� bila ;
1. Sangat terkait dengan CSF,
2. Merupakan hasil pengolahan dari multi sumber (formal/informal),
3. Hasil analisis bersama (Tim),
4. Tervalidasi dengan multi cross-checking process oleh expert group atau �knowledge workers�.

Dari paparan sebelumnya, perlu ditekankan disini bahwa ada 2 pilar penting dalam efektivitas EI yaitu �Networking� dan �Teknologi�, keduanya merupakan kunci utama keberhasilan dan kekuatan EI. Selain itu yang perlu diperhatikan adaptasi Economic Intelligence dalam suatu organisasi harus memiliki dukungan yang kuat dari Top level Decision maker (bahkan idealnya EI muncul dari keinginan dan kebutuhan yang kuat dari Top level Decision Maker). Selain itu kegiatan EI, harus memiliki fleksibilitas akses, anggaran serta daya dukung infrastruktur (IT, information management system, �) yang baik, dan tidak kalah pentingnya adalah dukungan SDM yang baik (kualitas, keragaman keahlian, mental EI, strategic, innovative, �).

ECONOMIC INTELLIGENCE DALAM PENGELOLAAN MONETER DAN PERBANKAN NASIONAL
Bidang Moneter
Perumusan dan kebijakan moneter maupun perbankan tidak akan tepat tanpa didasari oleh proses penelitian dan daya dukung sumber informasi yang akurat, disinilah Economic Intelligence mendapatkan tempatnya. Di tengah membanjirnya informasi, Economic Intelligence dapat dijadikan sebuah katalisator dalam penentuan informasi-informasi yang relevan dan valid, serta hasilnya dapat dijadikan alat untuk early warning system. Economic Intelligence memang bukanlah mukzizat yang menjanjikan solusi yang 100% tepat, akan tetapi paling tidak jangan sampai dikejutkan dengan hal-hal baru (critical issues strategis yang akan datang) yang sebelumnya tidak pernah terantisipasi.
Permasalahan ekonomi dan moneter yang terjadi pasca krisis ekonomi tidak sepenuhnya merupakan �fenomena ekonomi� di bawah domain Bank Sentral & Pemerintah. Sebagai ilusterasi, bagan 1.1 ( Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2001), menunjukkan bahwa identifikasi permasalahan ekonomi dan moneter tahun 2001 yaitu depresiasi dan volatilitas nilai tukar rupiah serta tekanan inflasi merupakan �linkages� antar variable ekonomi dan moneter yang relatif kompleks dan tidak seluruhnya merupakan �control� dari Bank Sentral.

Faktor � faktor yang mendorong semakin kompleksitas �linkages� antar variabale ekonomi & moneter antara lain :

1. Globalisasi ekonomi yang mendorong semakin terintegrasinya pelaku-pelaku ekonomi antar wilayah dan antar negara �negara di Dunia.

2. Revolusi tehnologi informasi yang semakin mempercepat �financial inovation� di pasar keuangan sehingga proses financial deepening & widening berjalan cukup cepat.

3. Indikator � indikator ekonomi lebih besar ditentukan oleh mekanisme pasar atau merupakan response dari pelaku pasar.

Dengan mempertimbangkan beberapa faktor tersebut, kecenderungan kebijakan ekonomi dan moneter saat ini lebih bersifat �signaling� dibanding melakukan �direct control policy�. Hal ini tercermin antara lain dari implementasi indirect monetary policy melalui pengendalian uang beredar atau pengendalian suku bunga serta penerapan sistem devisa bebas (free floating exchange rate).
Dari perkembangan fenomena moneter serta kecenderungan kebijakan ekonomi & moneter yang lebih bersifat �signaling� maka kebutuhan analisis yang bersifat forward looking sangat diperlukan yang ditujukan untuk mengetahui arah response dari pelaku ekonomi. Konsep Economic Intelligence (EI) sangatlah relevan dalam memenuhi kebutuhan dimaksud khususnya dalam upaya melakukan tindakan-tindakan pengamatan terhadap informasi ekonomi moneter dan informasi terkait, yang dilanjutkan dengan pengolahan dan analisis terhadap informasi tersebut yang ditujukan untuk pengambilan keputusan strategis. Data dan informasi yang digunakan untuk mendukung analisis saat ini lebih cenderung bersifat �historical data�. Diharapkan dengan konsep EI nantinya akan mampu menyediakan data dan informasi yang lebih relevan untuk mendukung atau mengurangi resiko yang kemungkinan muncul sebagai akibat dari keputusan yang telah diambil. Kerangka kebijakan moneter yang menggunakan konsep �inflation targeting� sangat memerlukan information variable yang lebih lengkap dan akurat dari sektor moneter dan sektor lainnya , sehingga dapat dilakukan keputusan-keputusan yang dapat segera diresponse oleh pelaku-pelaku ekonomi.

Pra kondisi yang diperlukan dalam upaya penerapan konsep EI dalam pengendalian moneter antara lain :

1. Tersedianya �centralised monetary & economic database� yang akurat, comprehensive, timeliness dan terjamin periodesasinya. Bank Indonesia saat ini juga sedang mengembangkan �datawarehouse� yang nantinya merupakan pusat database ekonomi & moneter.

2. Dukungan tehnologi informasi yang terkini, sehingga mampu melakukan pengolahan data base dan tehnical analysis yang lebih cepat dan akurat sehingga mampu membantu mengidentifikasi data-data yang tersedia menjadi informasi sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan dan peneliti. Aplikasi �Datamining� merupakan salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan oleh Bank Indonesia untuk mendukung tehnikal analysis dalam bidang moneter, perbankan dan pengembangan payment sistem di Bank Indonesia.
3. Tersedianya sumber daya manusia dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, yang diharapkan memiliki sense �market inteligent�, berorientasi teamwork, strategis, visioner serta keahlian dalam analisis praktis. Hal ini diharapkan mampu melakukan identifikasi dari kumpulan informasi baik yang formal maupun informal menjadi �selected strategy information/ knowledge information� yang berguna bagi pengambil keputusan.

Dalam pengembangan EI lebih lanjut, terdapat beberapa hal yang saat ini masih perlu mendapat perhatian bersama antara lain :

1. Type data-data indikator ekonomi & moneter serta data terkait lainnya di Indonesia yang masih memiliki time lag serta periodisasi yang berbeda �beda, sehingga sering menimbulkan �inkonsistensi� dalam rangka melakukan �linkages� analysis antar sektoral. Selain itu, masih terdapat data-data yang cukup relevan namun belum terstruktur sehingga masih belum dapat diolah menjadi informasi misalnya beberapa hasil survey yang insidentil.
2. Masih belum optimalnya �analysis makro-mikro� sehingga kebijakan makro yang diterapkan belum segera dapat diketahui dampaknya kepada pelaku mikro, sebaliknya indikator-indikator mikro belum sepenuhnya dapat segera diresponse oleh kebijakan makro.
3. Informasi �informasi informal yang tersedia, sering masih belum diyakini akurasinya karena responsibility yang relatif masih rendah. Hal ini informasi informal yang tersedia di pelaku-pelaku ekonomi sering diidentikan dengan isu atau rumor, sehingga menimbulkan kesulitan dalam mengukur kualitas informasi tersebut.
4. Belum optimalnya kemampuan sumber daya manusia yang memahami �linkages analysis� dari berbagai informasi lintas sektoral dengan tipe data yang berbeda � beda (multi cross checking process), serta kemampuan memisahkan data yang bersifat strategis non strategis.
Dengan optimalisasi penerapan EI di Indonesia, maka kontribusinya sangat diharapkan sebagai early wrning system dalam pengelolaan moneter saat ini dan antisipasi perkembangan selanjutnya serta mampu mempercepat proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

Bidang Perbankan
Sebagaimana diketahui bahwa perbankan nasional saat ini sedang dalam proses restrukturisasi. Proses restrukturisasi ini ditandai dengan diluncurkannya berbagai program penyehatan (rekapitalisasi, program penjaminan dan restrukturisasi kredit) serta program penguatan sistem perbankan (meliputi perbaikan infrastruktur, pengenalan Good Corporate Governance, dan pembenahan fungsi pengaturan dan fungsi pengawasan).
Restrukturisasi ini tidak hanya diterapkan bagi bank operasional saja namun juga berpengaruh kepada bagaimana Bank Indonesia harus melaksanakan pengawasan bank. Seiring dengan program restrukturisasi ini, Bank Indonesia melakukan pembenahan dalam rangka meningkatkan efektifitas pengawasan untuk menciptakan suatu kehidupan perbankan yang sehat, seperti tertuang dalam LOI dan BI Master Plan. Salah satunya adalah ; �penciptaan informasi dan dokumentasi pengawasan bank yang handal�.
Beberapa alasan mengapa faktor informasi ini menjadi salah satu kunci peningkatan efektifitas pengawasan, adalah sebagai berikut ;

1. Dengan dilaksanakan Fit and Proper Test bagi calon pengurus dan pemegang saham pengendali bank, maka menuntuk Bank Indonesia untuk memiliki akses informasi yang baik untuk mendukung efektifitas pelaksanaan test tersebut.

2. Adanya kebutuhan untuk menerapkan pengawasan berdasarkan standar Internasional yang mengacu kepada 25 Basle Core Principles serta adanya kewajiban untuk menerapkan Pengawasan Berbasis Risiko (Risk Based Supervision). Pendekatan baru ini bersifat forward looking, komprehensif dan antisipatif, sehingga pengawas dituntut memahami bank dari segala aspek. Konsekwensinya adalah pengawas harus memiliki akses informasi yang dapat diandalkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Apabila dilakukan assessment terhadap sistem informasi konvensional, maka tampaknya belum dapat menjawab kebutuhan tersebut, sehingga perlu dipikirkan alternatif lainnya. Pengenalan Economic Intelligence (EI) diyakini dapat menjawab tantangan tersebut. Namun untuk menerapkan konsep tersebut dengan mempertimbangkan kondisi yang ada saat ini, maka perlu dilakukan persiapan ke arah itu dengan menerapkan knowledge management untuk pelaksanaan EI secara utuh dan optimal.

Beberapa program yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut ;

1. Meningkatkan intelligence awareness di lingkungan pengawas dan pemeriksa. Diyakini bahwa sebenarnya sebelum melakukan penerapan konsep knowledge management maupun economic intelligence, telah banyak knowledge yang dimiliki, namun tidak dilakukan manajemen secara terstruktur, sehingga tidak dapat memberikan kontribusi yang optimal pada proses pengambilan keputusan.
2. Menyiapkan struktur organisasi yang berbasis pengetahuan, misalnya dengan melakukan pengelompokkan bank berdasarkan karakter yang sama (misalnya bank yang memiliki pemegang saham yang berasal dari negara yang sama disatukan dalam satu bagian pengawasan), melakukan alokasi pengawas berdasarkan pemerataan kompetensi, serta membuat event-event yang berkaitan dengan penebaran knowledge. Selain itu, dilakukan job enrichment terhadap peran unit pendukung bidang informasi yang tedapat di masing-masing direktorat pengawasan untuk bertindak selain intelligence fascilitator juga bertindak sebagai knowledge manager. Seiring dengan hal tersebut, diperkenalkan juga teknik indentifikasi dan searching knowledge baik menggunakan sarana IT maupun non IT.
3. Dalam hal pengaturan, perlu dilakukan perluasan dari konsep research based policy menjadi intelligence based policy, karena hasil dari proses intelligence dapat bersifat cukup signifikan sebagai pemicu sebuah kebijakan serta seringkali diperlukan adanya kebijakan yang krusial untuk mengatasi situasi yang mendesak di tengah cepatnya perubahan yang terjadi di pasar.
4. Memperbanyak alternatif sumber informasi yang tidak hanya berasal dari laporan bank saja, melainkan juga termasuk kepada informasi lainnya seperti informasi aktivitas bank di pasar serta adanya kemampuan untuk melakukan akses kepada sumber informasi lainnya. Selain itu, sejalan dengan adanya kenyataan bahwa konglomerasi keuangan masih kental, maka pemahaman kondisi bank yang tidak boleh lepas dari pemahaman bank secara menyeluruh terkonsolidasi dengan kelompok usahanya. Sebagai konsekwensinya, maka perlu adanya sumber informasi yang cukup ekstensif.
5. Melengkapi pengawas dan pemeriksa dengan sistem IT yang baik, sehingga dapat mendukung diperolehnya informasi yang lengkap, akurat, kini dan utuh. Saat ini sudah terdapat Sistem Informasi Management baik untuk pengawas maupun untuk pemeriksa. Selain itu dukungan dari data warehouse dan corporate portal Bank Indonesia juga dapat membantu untuk melakukan penjaringan informasi.

Sebagaimana dikemukakan di depan bahwa dalam pelaksanaannya proses transformasi dari paradigma lama yang berorientasi informasi menjadi intelligence memerlukan proses yang tidak mudah. Dengan demikian, memerlukan suatu upaya yang terus menerus. Upaya ini harus dilakukan terutama karena kebutuhan akan Economic Intelligence ini sudah tidak dapat dielakan lagi dalam era kehidupan bisnis perbankan yang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, serta adanya tuntutan penerapan pengawasan bank berbasis risiko.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ansoff, H. Igor and Edward J. McDonnell, Implanting Strategic Management, Prentice Hall,   1990.
  2. Ansolff, H.I. (Editor), R.P. Declereck (Editor), and R.L. Hayes (Editor), From Strategic Planning to Strategic Management, John Wiley & Sons, 1976.
  3. Aulia, A. Farid, Intelligence Economique (L�information strategique au coeur de la decision de la Banque d�Indonesie), Universite d�Aix Marseille III France, 2000.
  4. Collins, Heidi, Corporate Portals: Revolutionizing Information Access to the Increased Productivity and Drive The Bottom Line, Amacom, 2001.
  5. Cornell, Alexander H., The Decision Maker�s Handbook, Prentice-Hall, Inc., 1980.
  6. Cortada, James W. (Editor) and John A. Woods (Editor), Knowledge Management Year Book 1999-2000, Butterworth-Heinemann, 1999.
  7. Davenport, Thomas H. and Laurence Prusak, Working Knowledge: How Organizations Manage What They Know, Harvard Business School Press, 1998.
  8. Dou, Henri, Intelligence sociale et veille technologique, Humanisme & Entreprise, No. 310, 1993 pp. 53-64.
  9. Dou, Henri, Veille Technologique et Competitivite, Edition Dunond, 1995 Dou Henri, P. Hassanaly, L. Quoniam, Technology Watch and Competitive Intelligence: A New Challenge in Education, Journal of Education for Information, No. 11, 1993.
  10. Dow, Sheila C. (Editor) and Peter E. Earl, Economic Organization and Economic Knowledge: Essays in Honour of Brian J. Loasby, Edward Elgar Publishing, Inc., 1999.
  11. Jakobiak, F., Pratique de l�intelligence economique, Les Edition D�organisation, 1991.
  12. Kotler, Philip, O.C. Ferrell, and Charles Lamb, Strategic Marketing for Nonprofit Organization, Prentice Hall, 1987.
  13. Kudyba, Stephan and Hoptroff Richard, Data Mining and Business Intelligence: A Guide to Productivity, Idea Group Publishing, 2001.
  14. Liautaud, Bernard and Mark Hammond, E-Business Intelligence: Turning Information into Knowledge into Profit, McGraw-Hill, 2001.
  15. Nivol, William, Systemes de Surveillance Systematique pour Le Management Strategique de L�Entreprise, These, Faculte des Sciences et Technique de Saint Jerome, Universite di Droit, d�Economie et des Sciences d�Aix-Marseille III, 1993.
  16. Rostaing, Herve, Veille Technologique et Bibliometrie: Concepts, Outils, Applications, These, Faculte des Sciences et Techniques de Saint Jerome, Universite di Droit, d�Economie et des Sciences d�Aix-Marseille III, 1993.