Pentingkah Mandi Matahari (Sunbathing)?

15 05 2009
Siang itu cuaca kota Marseille di musim semi sangat cerah, sang surya memancarkan energi kalornya yang menyengat dan memanggang setiap material yang berada di udara terbuka. Bagiku, hal ini bukanlah istimewa setidaknya di kampungku sebagai daerah tropis , sepanjang tahun selalu disirami cahaya matahari meski diselingi curah hujan dan kelembaban udara yang tinggi. Setiap hari tubuhku dibanjiri keringat saat bepergian keluar rumah, bahkan jika perlu aku memakai pelindung untuk melindungi kepalaku dari sinar matahari yang menurutku hanya akan membuat kepalaku pening. Mayoritas kaum hawa pun menghindarinya, karena kuatir dengan kehalusan kulitnya yang bakal rusak dan mengancam kecantikan mereka. Namun demikian, tentu saja berbeda ceritanya dengan sahabat-sahabatku yang berasal dari belahan bumi yang lain (iklim temperate), sengatan raja siang ini adalah momen indah yang ditunggu-tunggu. Tempat2 terbuka yang berhubungan langsung dengan radiasi matahari seperti pantai, tepian sungai pun akan menjadi incaran mereka untuk merebahkan tubuhnya tanpa dibaluti busana dan berjemur berjam-jam setelah melewati musim dingin yang menggigil sepanjang tiga bulan.
Hari itu, setelah melewati setengah hari Travaux Pratique (TP) di laboratorium, mengerjakan beberapa sample air laut mulai dari analisa oksigen terlarut, nitrate, phosphate dan chlorophylle kamipun bergegas untuk makan siang. Seorang teman menoleh padaku dan bertutur :
” Halik, on fait du pique-nique ?”
tentu saja akupun menjawab dengan polos,
“ce week-end ci ?”
Temanku ketawa dan kembali menjawab:
“Non ! Halik, maintenant !”
akupun mulai nangkap, wah bencana deh ! kayaknya anak2 ini nih pada mau nyari tempat di mana matahari paling terik buat makan siang di sana. Sedetik kemudian ada teman yang lain berujar,
“On cherche du soleille”,
dengan berat hati aku cuman menjawab,
“d’accord !”
Setelah beres-beres, kami pun keluar dari ruang TP sembari mencari-cari tempat yang layak untuk dijadikan sebagai tempat yang nyaman dan tenang buat menikmati rezeki Tuhan pada hari itu. Kebetulan Laboratorium Centre of Oceanologie Marseille ini memang sengaja dibangun di tepi pantai. Dengan berat hati aku pun menuruti dan mengikuti kemauan mereka menyusuri pantai dengan substrat pasir berbatu dan sesekali dihempas ombak-ombak kecil ini, sepanjang pantai terlihat orang yang sedang memanggang tubuhnya tanpa sehelai benang pun hingga kulit tubuhnya terlihat merah seperti kepiting rebus. Mereka pasti menyadari bahwa efek buruk sinar ultraviolet adalah merusak kulit tubuh, tapi kenapa mereka seolah mengabaikannya ? sungguh aneh ! bahkan mungkin menyebabkan kanker kulit, nah lo ? Kalo acara berjemurnya di pagi hari sih mungkin baik untuk kesehatan karena sinar matahari pagi sangat berguna untuk mengolah pro-vitamin D menjadi vitamin D, membantu penyerapan kalsium untuk penguatan tulang bahkan sejumlah penelitian menyebutkan bahwa aktivitas ini dapat mencegah osteoporosis dan diabetes. Nah, bagaimana dengan mandi matahari di siang bolong ? Kadang aku berpikir sambil terheran-heran, nih orang-orang kok menikmati teriknya mentari bak aku menikmati indahnya sang purnama di malam hari ketika masih di kampung puluhan tahun silam. Kalo menikmati indahnya sang chandera di malam hari mungkin jauh lebih sejuk dan tenang apa lagi di desa, sambil menikmati beningnya muka laut dan sejenak riak2 kecil ombak memukul pelan tebing pantai yang kokoh.

Semenjak awal aku menginjakkan kakiku di bumi Marseille pun telah aku alami hal seperti ini. Seorang sahabat, sebut saja Jullian, kalo saja cuaca cerah dan ada sinar matahari, pasti dia udah menyemplung kan tubuhnya di hamparan rerumputan di taman kampus sambil membaca. Karena gak enak hati akupun selalu menuruti ide dan gagasan temanku ini, akibatnya flek hitam kini menjamur di kulit wajahku. Si julian ini selalu mengatakan bahwa gak usah khwatir, ils vont partir naturallement !. Pantas saja kulit tubuh mereka meskipun agak terang dibandingkan dengan warna kulit orang tropis tapi sekujur tubuh mereka sering dipenuhi bintik2 dan flek berwarna hitam kecoklat-coklatan belum lagi keriput di kulit wajah yang terlalu dini bagi mereka.

Sepanjang mulut kami melahap santapan siang yang sengaja dibawa dari rumah masing2, aku bersama gadis2 prancis ini tak henti2nya ngobrol dan berdiskusi sembari menengadahkan wajah ke arah datangnya sinar matahari. Mungkin budaya mereka yang sangat berbeda dengan kita dimana waktu istrahat siang selama dua jam, memang benar2 dihabiskan di tempat makan sambil berdiskusi ataupun obrolan ringan lainnya. Bagiku, ini adalah perjuangan yang cukup berat mengikuti ritual mereka dimana mereka selalu betah berjam2 di tempat makan sembari ngobrol yang kadang gak jelas arah dan tujuannya. Mungkin prinsip mereka adalah pada saat bekerja, tak ada lagi topic obrolan tentang hal2 di luar pekerjaan. Terlihat mata mereka mulai silau dan kulit wajah mulai memerah karena berhadapan langsung dg arah datangnya radiasi matahari. Jaket dan syal yang tadinya dipakai mulai dicopot satu persatu dan yang tersisa hanyalah yang menutupi bagian dada (Oh..ho…). Dua jam sudah kami lewati, di tepi pantai kini kamipun beranjak pulang sembari membereskan semua sampah2 sisa makanan hingga tak ada satupun tersisa. Tiga hari kemudian aku baru sadar flek hitam di kulit wajahku bak jelaga (oh là là…….!!)

Marseille, 14 Mei 2009. Tulisan ini direpost dari Facebook.

Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009





Negeri yang terlupakan

15 05 2009
Kepulauan Sula adalah salah satu kabupaten di wilayah paling selatan Maluku Utara yang
terdiri dari gugusan pulau-pulau antara lain Sulabesi, Mangole, Taliabu serta beberapa
buah pulau kecil lainnya, salah satunya adalah Lifamatola yang terletak paling timur.
Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran beberapa tahun yang lalu ini, jika
dipandang sekilas, tak tampak keistimewaan tertentu jika dibandingkan dengan
kabupaten-kabupaten lainnya yang ¨seangkatan¨ baik dari letak geografis, sumberdaya
alam maupun sumberdaya manusianya bahkan jika dilihat rentang percepatan
pembangunan semenjak region ini didirikan, sama sekali tak ada satu progres yang berarti.

Terlepas dari semua itu, tahukah anda bahwa wilayah ini telah menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia khususnya di bidang oceanografi (Ilmu Kelautan) semenjak beberapa puluh tahun yang lalu ? Adapun penyebabnya adalah, di bagian timur wilayah ini terdapat salah satu selat yang bernama Selat Lifamatola yang terletak antara Pulau Obi dan Pulau Mangole. Selat ini begitu menarik karena secara fisik merupakan salah satu lintasan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), fenomena yang terjadi dimana perpindahan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera India yang melalu jalur perairan timur Indonesia sepanjang tahun.

Pada tahun 1982, perairan ini telah diteliti oleh seorang oseanografer Belanda yang bernama Hendrik van Akeen melalu survey hydrografinya telah mengungkapkan bahwa ada semacam Sill (ridge = tonjolan) pada kedalaman sekitar 1880 meter yang berfungsi sebagai flushing (pencucian massa air) dari massa air dalam dimana aliran massa air dari samudera Pasifik sebelum menuju laut Banda. Hal ini didukung oleh hasil penelitian saya sendiri pada tahun 2004 juga menemukan pada kedalaman 400 – 1000 meter pada lokasi dimana sill berada , melalui sebaran melintang temperatue terlihat pengangkatan massa air dimana fenomena ini sangat berarti di bidang biologi perikanan karena pengangkatan massa air dari dasar perairan ini disertai dengan pengangkatan nutrient (senyawa kimia yang dibutuhkan oleh fitoplankton). Tak heran jika wilayah ini menjadi daerah penangkapan utama para nelayan sepanjang tahun dan tak jarang pula nelayan asing berkeliaran tanpa tercium oleh aparat keamanan.

Pada tahun 2004 – 2007, pemerintah Indonesia melalui BRKP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan) telah bekerja sama dengan beberapa negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Perancis telah melakukan satu monitoring continu terhadap fenomena ARLINDO yang bernama INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di mana salah satu lokasinya adalah di Selat Lifamatola, namun sayang sekali deployment instrument-nya gagal mengakuisisi data di wilayah ini, sdgkan wilayah2 lain seperti di selat makassar dan selat lombok ombay berhasil dan kini dalam tahap pengolahan data dan belum dipublikasi.

Memang jika dipikir-pikir, riset di bidang kelautan selain membutuhkan para ahli yang berkompeten juga membtuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun demikian saya tetap optimis bahwa jika pemerintah Indonesia memiliki political will ke arah ini, kita juga memiliki para ahli oseanografi yang tidak kalah dengan negara2 maju baik Amerika maupun negara Eropa lainnya.
Lewat tulisan ini saya mengajak agar putra-putri Sula yang masih muda dan energik mari kita sama2 membangun sula dengan memulainya dari laut.

Marseille, 10 Mei 2009. Tulisan ini direposting dari Facebook.

Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009





La galère de la rentrée – ma reflexion

26 09 2008

J’ai déjà écrit cet article il y a un an, et je trouve qu’il y a quand même pas mal des choses qui ont été changés voir même améliorés depuis. Comme l’accueil au CLOUS qui n’est plus chaotique, ou la rapidité d’obtention de la récépissé de titre de séjour (10 j au lieu du jamais…), ou encore la propreté de la cité U.

Malheureusement, quelques problèmes essentiels restent pas résolus, comme par exemple le nombre de logement étudiant qui est toujours limité. Enfin, de toute façon, pour le moment je pense que je vais me contenter de tous les changements positifs qui ont eu lieu.

Bonne rentrée 2008/2009 tout le monde, même si cela fait presque un mois déjà…

==================================================================

13 sept 2007

http://yosmina.multiply.com/journal/item/186

Eh oui, on est au mois de septembre. Malgré le beau temps, le temps de s’allonger sur la plage est terminé. C’est fini pour la petite sieste de l’après-midi…et la galère commence.
Je me souviens de mes expériences personnelles pendant ces deux dernières rentrées, il n’y avait que de galère pas possible à vivre.

D’abord le logement. Lors de déménagement d’une cité à l’autre, si tu décidé de faire tes études sur Marseille, et que tu n’as pas assez de moyen pour te loger en dehors de logement universitaire, tu doit être costaud pour pousser les autres qui sont plus petits dans une queue chaotique juste pour être le premier reçu par la gérante de logement dans le petit bureau de CLOUS Aix-Marseille. Très “humain” non?? Mais cela sert à rien de contester auprès de guichet d’accueil, car même eux, ils sont impuissants pour surmonter ce *spectacle* matinée de la fin de mois d’août et de début de mois septembre…Même si tu es devant la porte depuis 8 h, quelqu’un qui vient à 9 h peut toujours être à la queue loin….devant toi, dès que la porte est ouverte. On dirait que l’education n’apporte rien sur l’éthique et le respect de l’autre….

Pourtant, tu as encore la chance de te loger en cité U car déjà sur Paris par exemple, il n’y a que 3% de la population d’étudiant qui peut être logé en résidence universitaire. Bilan triste que l’UNEF a décidé de l’inclure en état d’urgence de plan de logement pour cette rentrée. Théoriquement  il y avait un accord de  Ministre de l’Education qu’il y aura(it) 5 000 logement d’étudiants bâtis chaque année (donc on devrait arriver à 15 000 logements au 2007), et si j’ai bien écouté l’info de cet après-m, il n’y a guerre 5000 jusque là….Une doctorante qui gagne autour 1100 euros par mois de son allocation de recherches doit payer 850 euro pour un appart à deux, et elle n’a pas le droit de toucher l’aide de la CAF car elle est classifiée comme une riche. Heureusement qu’elle partage l’appart avec son copain, parce que sinon, ça va lui couter cher..

Sur le plan de logement aussi, si pour être logé en cité U il te faut battre, même jusqu’à te camper devant le secrétariat avec ta tente un jour d’avant ou arriver très tôt (6 h du mat) comme dans le cas de Luminy, tu peux te sentir bien pauvre quand tu n’as pas l’opportunité de te loger dans une chambre bien entretenue. Tu sais exactement ce que je veux dire par cela si tu vivait dans des chambres aux bâtiments A, ou C sur Luminy. Je ne conteste pas de devoir m’adapter avec une espace de 9 m2 pendant trois ans, ce que je conteste c’est l’état de salubrité et de manque de moyens sur le plan d’hygiène et l’entretien de bâtiment (voir le reportage). Heureusement que maintenant une partie de bâtiment A est en plein rénovation, donc ça me soulage un peu de savoir qu’au moins il y a des étudiants qui vont vivre là dans des chambres réhabilitées. Et ce, le cité U de Luminy, seulement pour loger 2 000 sur 11 000 des étudiants qui y font leurs études pendant les neuf mois d’une année universitaire…

Deuxième point, notamment pour les étudiants étrangers, c’est toujours l’histoire de titre de séjour: tu dois courir partout pour être en regle et pour pouvoir obtenir cette carte *dans les meilleurs délais*. Pour une modeste boursière comme moi peut-être c’est moins compliqué. Une attestation simplifiera (enfin, pas toujours) quelques démarches, mais pour tous ceux qui sont là en leur propre moyen, il faut être très prudent…attestation de la banque ou RIB, attestation de directeur de la thèse ou certificat de scolarité, tes papiers personnelles (livret de famille, acte de naissance, passeport)…Si tu t’en fiche, alors là je te dit bon courage…car les 20 préfets n’atteignant pas de quota d’expulsion de sans papiers (25 000 expulsions pour 2007) ont été convoqués par le ministère de l’immigration hier mercredi 12 septembre (actualité.aol.fr). Et il existe bien de cas d’expulsion des étudiants étrangers n’ayant pas leur titre de séjour en cours de validité.
Personnellement, j’ai l’impression que j’aurais une autre galère cette année…celle de devoir renouveler mon passeport, ce qui veut dire qu’il y aurais un impact sur mon titre de séjour…

Et alors, tu me demandes, qu’est-ce que tu voulais dire dessus? Ce que je voulais dire, pour tous les étudiants, notamment des étudiants étrangers comme moi, on vie beaucoup des difficultés si l’on veut faire des études ici en France. Si l’autorité ne prends pas conscience dans quel état les étudiants doivent vivre quotidiennement, ça ne m’étonne pas si beaucoup d’entre eux s’égarent à un point de leurs études pour travailler (ou pire, se prostituer pour financer leurs études). Enfin, à la fin de compte, tu fais tes études pour accrocher un boulot promettant une vie tranquille, mais ce n’est pas agaçant ça, si tu te trouves toujours au chômage avec une bac +8 (ou 9, ou 10??).

“Etudier est un droit, pas un privilège”, quel beau slogan…mais moi je dirais “Etudier est un vrai parcours de combattant, pas un piq-nique”

A tous mes compatriotes étudiants, je vous souhaite une bonne rentrée, mais surtout pas une autre manif, svp. J’ai eu marre de faire des stops et d’aller au pieds depuis Valmante jusqu’à la fac au nom de solidarité.

===================================================================

yht.260908





5-Langkah untuk duduk manis di pesawat ke Prancis

14 11 2007

Pagi ini,di milis PPIMarseille, ada pertanyaan Ulen tentang bagaimana mengurus bebas Fiskal sebelum berangkat ke Prancis.

 

Di tulisan kali ini, saya mencoba untuk menggambarkan bagaimana proses keberangkatan dari Indonesia termasuk pengurusan bebas fiskal di bandara sesuai pengalaman pribadi pada waktu kembali ke Prancis, dengan beberapa foto di bandara internasional Soekarno-Hatta, Indonesia yang saya ambil waktu kembali ke Prancis awal februari 2007.

Airport Jakarta Indonesia

Lisez la suite de cette entrée »





Sekolah di Prancis yuuk…

11 09 2006

Cerita beberapa teman tentang “perjuangan” sebagai mahasiswa Prancis…

sekolah-di-prancis-yuk.jpg

Cerita les Marseillais… ditungguuuuu…