
Kepulauan Sula adalah salah satu kabupaten di wilayah paling selatan Maluku Utara yang
terdiri dari gugusan pulau-pulau antara lain Sulabesi, Mangole, Taliabu serta beberapa
buah pulau kecil lainnya, salah satunya adalah Lifamatola yang terletak paling timur.
Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran beberapa tahun yang lalu ini, jika
dipandang sekilas, tak tampak keistimewaan tertentu jika dibandingkan dengan
kabupaten-kabupaten lainnya yang ¨seangkatan¨ baik dari letak geografis, sumberdaya
alam maupun sumberdaya manusianya bahkan jika dilihat rentang percepatan
pembangunan semenjak region ini didirikan, sama sekali tak ada satu progres yang berarti.
Terlepas dari semua itu, tahukah anda bahwa wilayah ini telah menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia khususnya di bidang oceanografi (Ilmu Kelautan) semenjak beberapa puluh tahun yang lalu ? Adapun penyebabnya adalah, di bagian timur wilayah ini terdapat salah satu selat yang bernama Selat Lifamatola yang terletak antara Pulau Obi dan Pulau Mangole. Selat ini begitu menarik karena secara fisik merupakan salah satu lintasan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), fenomena yang terjadi dimana perpindahan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera India yang melalu jalur perairan timur Indonesia sepanjang tahun.
Pada tahun 1982, perairan ini telah diteliti oleh seorang oseanografer Belanda yang bernama Hendrik van Akeen melalu survey hydrografinya telah mengungkapkan bahwa ada semacam Sill (ridge = tonjolan) pada kedalaman sekitar 1880 meter yang berfungsi sebagai flushing (pencucian massa air) dari massa air dalam dimana aliran massa air dari samudera Pasifik sebelum menuju laut Banda. Hal ini didukung oleh hasil penelitian saya sendiri pada tahun 2004 juga menemukan pada kedalaman 400 – 1000 meter pada lokasi dimana sill berada , melalui sebaran melintang temperatue terlihat pengangkatan massa air dimana fenomena ini sangat berarti di bidang biologi perikanan karena pengangkatan massa air dari dasar perairan ini disertai dengan pengangkatan nutrient (senyawa kimia yang dibutuhkan oleh fitoplankton). Tak heran jika wilayah ini menjadi daerah penangkapan utama para nelayan sepanjang tahun dan tak jarang pula nelayan asing berkeliaran tanpa tercium oleh aparat keamanan.
Pada tahun 2004 – 2007, pemerintah Indonesia melalui BRKP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan) telah bekerja sama dengan beberapa negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Perancis telah melakukan satu monitoring continu terhadap fenomena ARLINDO yang bernama INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di mana salah satu lokasinya adalah di Selat Lifamatola, namun sayang sekali deployment instrument-nya gagal mengakuisisi data di wilayah ini, sdgkan wilayah2 lain seperti di selat makassar dan selat lombok ombay berhasil dan kini dalam tahap pengolahan data dan belum dipublikasi.
Memang jika dipikir-pikir, riset di bidang kelautan selain membutuhkan para ahli yang berkompeten juga membtuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun demikian saya tetap optimis bahwa jika pemerintah Indonesia memiliki political will ke arah ini, kita juga memiliki para ahli oseanografi yang tidak kalah dengan negara2 maju baik Amerika maupun negara Eropa lainnya.
Lewat tulisan ini saya mengajak agar putra-putri Sula yang masih muda dan energik mari kita sama2 membangun sula dengan memulainya dari laut.
Marseille, 10 Mei 2009. Tulisan ini direposting dari Facebook.
Halikudin Umasangadji, Ketua Dept Ristek 2008/2009
Commentaires récents