Y’ a pas que des cries d’enfants… mais d’adultes aussi…
Tangisan anak kecil yang letih dan teriakan orang dewasa yang kecewa…
rasa lapar dan kebosanan menunggu dan menunggu…
seperti tahun-tahun kemarin, atmosfer di prefektur kota Marseille tak berubah…
dan sistemnya masih… fatiguant… melelahkan.
Untuk mahasiswa asing, ijin tinggal yang dikeluarkan dalam bentuk “carte de séjour” harus diurus setiap tahun. Sebagai mahasiswa, kita diijinkan tinggal hanya jika terdaftar di universitas… sehingga setiap tahun, kita akan melewati drama yang sama di kantor ini.



Monsieur prefecture juga manusia.
Aku membayangkan kalau berada di pihak prefektur itu sendiri, pasti bukan hal yang mudah untuk mengurus semua “orang asing”. Mengurus warna negara sendiri saja sudah sulit, apalagi yang datang dari negara lain, dan tidak sedikit yang belum bisa berbahasa Prancis. Setiap hari menghadapi orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda… kalau tidak memaki, mungkin juga dimaki. Salah pengertian juga tentunya hal yang sulit untuk dihindari. Jadi, jangan heran kalau kita tidak dilayani dengan lemah lembut.
Pengalamanku sendiri, dalam 5 kali berurusan dengan mereka, sepertinya belum pernah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Bahkan, suatu hari aku kembali ke guichet dengan satu bungkusan hiasan batik yang kudapatkan dari Pasaraya dan ucapan terima kasih untuk seorang madame yang melayaniku dengan ramah dan senyuman. Bukan bermaksud untuk “nyogok”, karna tahun berikutnya, aku dilayani pegawai yang lain, dan tidak menghubungi madame tersebut.
Pada dasarnya, jika dokumen kita tepat dan lengkap, pasti tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah “waktu” yang terkadang sangat lama sedangkan surat sakti itu sudah sangat urgent. Misalnya kala kita harus keluar dari wilayah uni-eropah, tanpa surat sakti ini, kita pasti akan menemui masalah.
Récépisé de demande de la carte de séjour
Dokumen ini dapat kita gunakan untuk “menemani” carte de séjour yang sudah habis masa berlakunya. Dengan dokumen ini, kita diijinkan untuk masuk/keluar wilayah uni Eropa
Waktu tercepat mendapatkan recepisé de demande de la carte de séjour sesuai pengalamanku adalah 4 minggu sesudah pengiriman, dan waktu terlama… hmmm… kalau nggak di cek lagi, bisa sampai 5 bulan lho!
Jadi, kalau sudah lebih dari 2 bulan, sebaiknya di-cek kembali ke kantor prefecture. Seperti yang Parabelem, Gusnaedy dan aku lakukan hari rabu, tanggal 8 november yang lalu…
Une journée infernale…
Pagi itu, Parabelem berangkat lebih pagi. Jam 8.30, antrian untuk pengambilan nomor guichet sudah panjang. Tiga lembar nomor yang di “mandat”kan Gusnaedy semalam berhasil didapatkan-nya sesudah 3 kali antri. Hanya satu lembar nomor diijinkan untuk satu peng-antri. Gusnaedy tiba setengah jam sesudah itu. Aku tiba jam 10 karna harus membuat beberapa fotokopi dokumen yang diminta prefektur.
Tujuan kami sama, ingin mendapatkan recepisé de demande de la carte de séjour, surat sakti yang menggantikan sementara peranan carte de séjour/ titre de séjour.

Carte séjour étudiant ini biasanya habis masa berlakunya setiap tanggal 31 oktober, yang pasti sesudah masa tahun ajaran selesai. Fungsinya adalah sebagai kartu identitas di Prancis. Dengan kartu ini, kita sudah dianggap “penduduk” negara Prancis dan mendapatkan hak sebagai “mahasiswa asing di Prancis”. Kami belum mendapatkan récépisé itu walaupun semua dokumen sudah dikirim lebih dari 2 bulan yang lalu.
Masih ada sekitar 70 orang sebelum kami yang mengantri tapi kami tidak berani keluar dari kantor prefektur karna beberapa kali ada nomor yang dilewati, mungkin mereka tidak tahan lagi menunggu. Jika kami absen dan nomor terlewat… nggak akan ada kesempatan lagi kecuali mengambil kembali nomor baru atau kembali besok pagi dengan rithme yang sama! Lapar… karna akhirnya jam makan siang lewat… aku sempatkan keluar sebentar, membeli roti dan minuman, dan kami harus terus menunggu.
Alasan kami nekad ke kantor prefecture karna:
- Parabelem belum mendapatkan “Accusé de Récéption”, yang seharusnya dia dapatkan beberapa hari sesudah pengiriman dokumen.
- Gusnaedy sudah mendapatkan “Accusé de Récéption”, tapi récépisé-nya belum juga dia terima.
- Aku, sama dengan Gusnaedy, sudah mendapatkan “Accusé de Récéption”, tapi récépisé-nya belum juga ku terima padahal aku harus meninggalkan Prancis dalam waktu dekat ini.

“Avis de réception atau Accusé de Réception“= Tanda terima dari kantor pos, bukti bahwa dokumen sudah diterima alamat yang dituju.
Akhirnya, sekitar jam 3 sore, setelah 6 jam menunggu, nomor Parabelem dipanggil; setelah 5 menit, dia keluar dari Guichet dan dari raut wajahnya… tersenyum.

“Dapat?” tanyaku dan Gusnaedy hampir bersamaan.
“Hilang!” katanya, tapi dengan senyum…
Gusnaedy dan aku mengerutkan dahi…
“Kata mereka dossier-ku hilang, tapi mereka langsung memberikan formulir lain untuk diisi dan memasukan kembali semua dokumen tanpa harus antri lagi. Untunglah semua dokumen aku bawa he he he… jadi bisa aku masukkan sekarang sajalah.”
Setelah semua dokumen dilengkapi dan formulir diisi kembali, Parabelem akhirnya berhasil mendapatkan récépisé-nya kembali tanpa harus antri dari awal.
Ternyata alasan yang sama juga untuk Gusnaedy… walaupun sudah ada “Accusé de Récéption”, dokumen-nya dinyatakan “hilang”. Kali ini wajahnya ungu kemerahan karna kecewa dan marah… masalahnya, dia tidak membawa semua dokumen yang dibutuhkan, hanya passport dan carte de séjour. Gusnaedy masih bersungut… giliran nomorku dipanggil.
Sesuai dengan pembicaraan ditelpon dengan seorang pegawai di Prefektur sehari sebelumnya, aku membawa semua dokumen yang diminta. Mereka tidak memberikan alasan “hilang”, tetapi yang kami lakukan adalah memasukan kembali semua dokumen yang dibutuhkan.
Donc… artinya sama saja dengan kedua colegue-ku tadi…
Kesimpulan-ku… sebenarnya dokumen kita ada, tidak ada yang hilang, tapi yang jelas mereka enggan untuk membongkar semua dokumen yang pasti ratusan banyaknya. Berapa banyak waktu mereka akan hilang hanya untuk mencari dokumen si Parabelem atau Gusnaedy yang tertutup di dalam amplop? Akan lebih mudah meminta kita untuk memasukkan kembali dokumen baru, apalagi kalau data kita sudah ada di komputer mereka karna sudah perpanjangan untuk kesekian kalinya. Buktinya tempat lahirku yang sudah kuperbaiki pada formulir permintaan kedua masih tetap salah walaupun sudah permintaan ke-empat, masih tertulis “Tomotton” seperti permintaan pertama…
Pengalaman beberapa teman, walaupun kita sudah mendapatkan récépisé dengan cara ini, terkadang dossier kita sebelumnya tetap diolah, dan akhirnya ada récépisé yang sama yang akan dikirim ke alamat kita…
Akhirnya aku-pun berhasil mendapatkan surat sakti ini… dengan sedikit pesan… “kalau anda kembali untuk mengambil carte de séjour, tolong lengkapi dengan kartu mahasiswa definitive ya…”. Monsieur P yang melayaniku menjelasnya dengan baik plus senyum… Alors, pour l’instant… elle est pas belle la vie?
Proses pendaftaran di universitas Aix-Marseille memang bukan prosedur yang singkat. Banyak meja yang harus dilewati oleh dokument kita (tetapi untungnya sistemnya tidak sama dengan di Indonesia
). Hanya dibutuhkan kesabaran, bukan bayaran untuk semua meja yang dilewati. Pembayarannya-pun dilakukan dengan cheque yang mengatas-namakan institusi bukan pribadi. Kita akan resmi terdaftar, mendapatkan kartu mahasiswa sekitar bulan desember. Batas akhir pembayaran biasanya sampai tanggal 22 desember.
Kembali ke atmosfer prefektur yang tetap saja diwarnai dengan histeris , seperti di loket sebelahku… Entah surat apa yang belum bisa dia penuhi, bapak yang sedang dilayani di loket sebelah berbicara dengan nada tinggi… lebih tepat marah2 sambil berteriak. Kalau sudah seperti ini, sepertinya orang dibalik loket juga hanya menunggu… sebelum menjelaskan… atau seperti yang dialami seorang teman yang lain, dokumennya dilempar keluar.
Gusnaedy yang sudah putus asa, akhirnya mampu di”bangkitkan” semangatnya oleh Parabelem…
“Bravo Belem!!!”
Matanya yang berkedap-kedip saat menjelaskan pada Gusnaedy telah membangkitkan semangat bang “Marpongge” ini.
Dia nekad membuat pas-foto yang tersedia di prefektur, fotokopi dokumen yang ada, hanya passport dan carte de séjour tahun sebelumnya dan mengisi formulir baru… dan langsung nyosor masuk ke guichet.
Eeeh… ternyata Monsieur prefektur mau terima juga!!!
Nah lho…
Mereka langsung membuatkan satu récépisé, menempel foto… dan detik-detik penantian kami sampai waktu menunjukkan hampir jam 4 sore… dari microfon…
“Monsieur Marpongge, au guichet 7 s’il vous plaît”.
Dengan penuh semangat Gusnaedy masuk ke guichet… dan dia kembali… tapi dengan wajah merah keunguan juga…
“Gimana?”
“Dia bilang… désolé monsieur, votre récépisé est pret, mais notre responsable qui doit signer est déja parti… vous revenez demain matin, pas besoin la queue, vous me cherchez… itu katanya si gemuk” Si gemuk… adalah monsieur di guichet 7.
(maaf pak, récépisé sudah siap tetapi penanggung jawab kami yang seharusnya tangda tangani récépisé ini sudah pulang… anda kembali besok pagi saja ya, tanpa antri dan langsung menemui saya)
Ben oui… jam 4 sore prefektur tutup euy…
“Ya sudahlah, yang penting besok so pasti ngana mo dapa tu récépisé toh?” Kata Parabelem dengan dua mata berkedap-kedip bak ikan mas koki dan logat Manado-nya yang sekental tinutuan… lol
Anda akan berurusan dengan prefektur? (khususnya Marseille)…
- Pengambilan carte de séjour yang sudah lengkap dengan convocation bisa dilakukan di loket 10 tanpa harus mengambil nomor antri.
- Urusan di luar point 1, harus bangun pagi-pagi, antri untuk ambil nomor jam 8 pagi.
- Korbankan satu hari, tanpa rendezvous dengan pihak lain… sehari demi monsieur prefektur
- Jangan lupa membawa: bekal makanan/ minuman untuk makan siang, camilan, buku/ majalah bacaan, teka-teki silang, atau apa saja untuk mengisi waktu karna ditanggung membosanken.
- Bawa semua berkas penting yang biasanya diminta oleh prefektur… fotokopi passport, carte séjour terakhir, attestation d’hebergement, facture EDF atau France télécom, pasfoto 3 lembar, attestation dari profesor untuk menjelaskan bahwa masih akan melanjutkan study, attestation dari profesor kalau sedang dalam proses pendaftaran atau kartu mahasiswa kalau sudah ada, Accusé de récéption atau bukti pengiriman dari kantor pos.
- Sabar ya…
Bon courage!!!
). Hanya dibutuhkan kesabaran, bukan bayaran untuk semua meja yang dilewati. Pembayarannya-pun dilakukan dengan cheque yang mengatas-namakan institusi bukan pribadi. Kita akan resmi terdaftar, mendapatkan kartu mahasiswa sekitar bulan desember. Batas akhir pembayaran biasanya sampai tanggal 22 desember.




Pengalaman aku kemarin jadi sans papier selama tiga bulan:/
Antri depan prefektur dari jam 6 pagi, di belakang 73 orang:(
Baru bisa ngambil titre de séjour setelah 10 jam nunggu:[
yang ngasih juga gak merasa bersalah karena dah bikin hidup aku asem pait selama 3 bulan:_
Tapi pas dah ada di tangan hidup ternyata indaaaaaaaahhhh:D
Sekarang aku dah jadi sans papier lagi:p!
c’etait ecrit :
Il est 08h43
On va vous appeler au numero: 754
Il y a 124 personnes devant vous.
Vu cette ticket d’attend, je voulais crier, comme au Groland avant la pub : MMM*****RRRRRDDDD***** !!!!!, ou…
Jospin au Gignol de l’info: pays de mmmmm****rrrdd*******
Mais c’est vrai, la vie est devenu belle, trop belle si cette truc est a la main…
y compris la fille au caissier de resto U Luminy l’année dernier
-piss
PS: pas trés aimable comme ticket d’attend, il manque au moin: BON COURAGE
Antrian di prefektur ganti lagi sekarang. Guichet RdC sekarang buka lagi, antri disitu untuk perpanjangan carté de sejour dan recepissée. Information general juga disitu.
Terakhir kesana (6/12/2006)untuk perpanjangan recepisée, aku antri disitu +- 20 menit. Le mec au guichet m’a dit “y a rien a signaler avec votre titre de sejour. il est entrant d’etre imprimer. en attendant, je vais renouveller le recepisée une fois encore”.
Yah terus disuruh ke atas, nunggu disitu sekitar satu setengah jam.
moins penible que avant quand meme.